Thursday, May 26, 2016

CORNER SEX - AJAK ML KLIEN SEKSI

Sekarng aku bekerja di sebuah Event Organizer di sebuah kota Jakarta, posisiku sebagai Senior Executif, baru kemarin teamku menyelesaikan proyek terbesarku dari stasiun TV swasta, aku sudah merantau sejak 2 tahun terakhir tempat asliku Bandung, aku dan teamku telah banyak menyelesaikan proyek dan semuanya berhasil dengan lancar.


 Ajak ML Klien Seksi


Biasanya aku kalau presentasi sendirian kadang juga ditemani salah satu seorang junior di team kreatif, perkenalkan namaku Ary saat ini usiaku menginjak ke 26 tahun aku belum mempunyai pacar mungkin karena keasyikan kerja, aku mengontrak di daerah bilangan Gatot Subroto, tempat yang aku hni tidak terlalu besar tapi cukup untuk buat istirahat.


Aku mempunyai keinginan untuk membeli mobil yang aku idamkan yaitu Mercy Tiger dengan custom ring 18 inch, aku yakin bisa membeli mobil yang aku idamkan karena penghasilanku lumayan, tahun kemarin sudah menabung dari pekerjaan di perusahaan periklanan, setidanya bila kau bisa membeli mobi itu bisa mendukung pekerjaan dan penampilanku.
Senin pagi itu aku ada janji bertemu dengan Brand Manager Ur, untuk produk shampo terkenal, berkaitan dengan pitching event shampo tersebut yang cukup menyita waktu istirahatku. Berangkat pagi pulang subuh, selama dua minggu walau diselingi dugem di HR atau di daerah Kemang sebagai pelepas penat. “Selamat siang, ada yang bisa dibantu?” gadis manis receptionist menyapa dengan senyum ramah di wajahnya.
Lumayan, agak menurunkan tensi, karena terus terang hari itu aku merasa tegang sekali berkaitan dengan proposal event yang sempat aku presentasikan seminggu yang lalu. “Bisa bertemu dengan Ibu Dina? Saya ada janji bertemu dengan beliau, Saya Ari, sambil menunjukkan name tag-ku. “Mohon ditunggu sebentar, Ibu Dina sedang ada tamu”, sambil mempersilahkan duduk, Cinthya tersenyum kembali.
Kutahu namanya dari name tag-nya. “Revi kemana Mbak?” tanyaku menanyakan receptionist yang pernah kutemui saat aku presentasi. “Dia sudah resign, persis satu minggu yang lalu”. Ooo.. berarti ketika aku presentasi, hari itu adalah hari terakhirnya Revi. Imut sekali. Lebih cantik dari Revi Tidak terlalu tinggi, tapi terlihat manis dengan blazer coklat, blouse krem dan rok sepaha, yang cukup lumayan tinggi, hingga kulit pahanya yang mulus terlihat dengan jelas.
Sepatu hak tinggi menambah seksi kaki mungil cinthya. Usianya kira-kira 24 atau 25 tahun. Ah,.. sudahlah, setidaknya dengan melihat Cinthya pikiran ku agak sedikit rileks, berhubung minggu lalu aku dibantai habis-habisan oleh Ibu Dina, mulai dari konsep event hingga budget yang kuajukan. Berbeda dengan brand manager produk lainnya, Ibu Dina agak sedikit dingin namun kritis sekali dalam menilai sebuah proposal.
Pertanyaan yang bertubi-tubi pada saat presentasi menandakan beliau sangat berpengalaman sekalidalam menghandle produk. Saat fantasiku melayang memikirkan Cinthya dengan lingeries (dasar cowok), tiba-tiba suara Cinthya memecah konsentrasiku.. “Pak Ari, silakan, ditunggu di ruang kerja Ibu Dina”, sambil berdiri dekatku yang duduk di sofa ruang tunggu.
Bau Cool Water women tercium harum sekali menambah tajamnya fantasiku tentang Cinthya, yang kusimpan dulu sementara untuk dilanjutkan setelah bertemu Ibu Dina. Cinthya jalan didepan mengantarku menuju raung kerja Ibu Dina. Roknya cukup ketat, hingga menampilkan garis CD yang tidak biasanya ku lihat.. G-String! Woow.. Kalau aku Ryo Saeba (City Hunter) tentunya aku telah dibuatnya mimisan.
Tamu Ibu Dina terlihat keluar dari ruangan Ibu Dina. Sososk yang tidak mungkin kulupakan, Hendra! bajingan itu mencuri konsepku dua tahun yang lalu ketika sama-sama kerja di B**O. Kurang ajar.. ngapain dia ketemu Ibu Dina? Apakah dia mengerjakan proyek yang sama seperti aku tangani sekarang? Diakah musuh pitchingku? Who cares! Ketika saling papasan kami hanya saling pandang sebentar dan berlalu begitu saja.. “Ibu, pak Ari , Cinthya memberitahu Ibu Dina yang sedang duduk menghadap jendela kaca.
Begitu membalik, Ibu Dina sedang memegang proposalku dan melemparnya ke meja dihadapan beliau. Glek!.. This could be the end of the world.. Perasaanku semakin tidak enak, karena pengalamanku selama mengerjakan 19 proposal proyek event atuapun Integrated Marketing Communication, hanya 2 yang ditolak, itupun kalah pithcing denga agensi lain.
Berarti ini yang ketiga dari 20.. que sera sera.. what ever will be, will be. “Duduk Ri,..” seiring pintu ditutup Cintya dari luar. Kira-kira 3 menit ruangan itu hening. Terus terang aku semakin grogi dibuatnya. Tidak terpikirkan satu katapun untuk diluncurkan membuka kebekuan ini. Ibu Dina melihat proposalku sambil sesekali melirik padaku.
Gilaa.. Aku semakin salah tingkah dibuatnya.. tidak pernah sebelunya aku merasa setegang ini dan menjadi tidak pede. “Ha.. ha.. ha.. ha.. nggak usah tegang gitu deh Ri!” sambil berdiri dan berjalan ke lemari es kecil di samping sofa di ruangannya. “Mau minum apa Ri..?” sambil membuka lemari beliau berkata. Puihh.. tensiku sedikit menurun. “Ehm.. anything you drink.. same as you I guess”, masih beku lidahku, walaupun di lemari es itu kulihat Vodka Cruiser, minuman kegemaranku. Beliau mengambil 2 Coke kaleng dingin. Satu ditaruhya di depanku setelah sebelumnya beliau buka. “Honestly.. I do like your proposal.. very much!” sambil kemudian meneguk Coke dari kalengnya.
Sedikit mengibaskan rambutnya sebelum minum, leher jenjangnya terlihat putih, sangat seksi.. Hampir loncat dari kursi aku mendengarnya dan berteriak hore.. Namun tidak kulakukan.. Jaim.. jaim Ri.. “O ya..? How could you posibbly like my proposal? Perasaan aku bikinnya nggak begitu pede bu,” kataku merendah, sambil kumundurkan badanku menyentuh sandaran, hingga merasa rileks. “Oo.. jadi kalo pede, mungkin lebih bagus lagi yaa..? Ah, lu bisa aja deh Ri”, sambil sedikit tertawa.
Hari itu Ibu Dina yang kukenal ketika pertama kali presentasi sangat berbeda. Imageku tentang Bu Dina langsung berubah 180 derajat. She’s so lovely today. “Mmm, sini deh Ri..!” kembali berdiri dan berjalan menuju sofa. Sedari tadi baru sekarang aku penampilan Ibu Dina yang begitu menggairahkan, karena konsentrasiku masih tertuju pada proposal. Blouse putih, tipis ketat, menampilkan garis bra hitam yang begitu menggoda.
Rok tinggi hitam dan stocking hitam tipis membungkus kakinya, ditambah sepatu hak tinggi bergaya stilletto semakin menambah beliau seksi. Aku berjalan mengikuti beliau duduk di sofa. Beliau duduk di one piece sofa sedangkan aku duduk di sofa besarnya. Aku duduk agak di tengahnya dan beliau duduk di sofa sebelah sofaku dan membentuk sudut 90 derajat kira-kira. “I like the idea about hair test.., hal itu dapat membangkitkan ketergantungan konsumen pada produkku.
I mean, we can find the reason why people must use certain variances..”, kulihat semangat di matanya, pertanda proposalku diterima. Bahasanya campur aduk Inggris- Indonesia, lu gue, dan segala kosa kata yang masih kumengerti. Percakapan itu semakin hangat. Gestur Ibu Dina semakin santai dengan bermacam posisi. Sekali- kali bersandar, kemudian maju lagi.
Seringkali menyilangkan kakinya bolak-balik, membuat aku sedikit melirik ke arah pahanya dan memikirkan apa yang ada di balik roknya, membuatku semakin tidak enak duduk, karena burungku sudah ingin lepas dari sangkarnya. Apalagi beliau sering sekali menepuk pahaku, walaupun aku sudah berusaha untuk menjauh sedikit, karena ingin menjaga imageku.
Hingga akhirnya dudukku semakin ketengah sofa, yang otomatis membuat jarak duduk cukup satu orang di sampingku. Konsentrasiku semakin terpecah, ya mendengarkan Ibu Dina, sambil sesekali membalas percakapan, dan melihat beberpa bagian tubuh Ibu Dina, muali dari kancing atas blousnya yang tidak tertutup, yang dengan jelas memperlihatkan dua bukit tertutup bra berlace hitam, dan ke arah bagian paha hingga dalamnya rok atasnya.
“But, before I accept this proposal, ada beberapa hal yang pengen gue omongin sama elu”, sambil menarik badannya bersandar pada sofa. Jarak duduk dia yang agak jauh dengan senderan sofa, membuat dia agak sedikit berbaring. Kedua pahanya terbuka, membuat aku semakin penasaran daerah yang tadinya gelap. Tanggannya menarik sedikit roknya ke atas.
Jantungku sedikit berdegup keras, sambil menelan ludah mataku terkonsentrasi pada daerah tadi. “Gue dari tadi merhatiin elu liatin badan gue.., lu suka khan..?” sambil senyum sedikit menggoda. “Eehhm.. mm.. mmaksud Ibu..?” tergagap aku mendengar pertanyaan itu. “Gak usah panggil gue Ibu, panggil gue Dina”, sambil berpindah posisi duduknya di sebelahku.

Gila.. mau ngapain nih si Ibu? Pikirku dalam hati. Terus terang, hasrat kelelakianku makin kuat. “Don’t be so naive.. Ini khan yang lu tunggu..?” bibirnya mendekati mukaku. Kontan aku menyambutnya. Hilang sudah perasaan sungkanku pada beliau. Yang ada hanya nafsu yang ingin kupuaskan, setelah 2 minggu puasa kebutuhan biologis, mengerjakan proposal proyek ini.
Bibir kami bersatu, lidah kami saling menyeruak masuk ke dalam rongga mulut. Sambil mendorong badanku hingga akhirnya tiduran di sofa panjang itu, Dina, begitulah kupanggil namanya sekarang tanpa atribut Ibu, semakin agresif meraba burung yang masih dalam sangkar namun sudah berdiri tegak. Rasa pegal di burung akhirnya hilang ketika kusadari Dina telah membuka celanaku, dan mengeluarkan penis yang berdiri tegak, mencari sangkar hangat.
“Jika lu mau proyek ini goal, puasin gue sekarang.. ngerti? Gue gak ragu-ragu untuk menunda atau menolak porposal lu, kalo lu gak puasin gue hari ini..”, ancaman itu terdengar menantang sekaligus anugrah yang tak terkira. Kemejaku telah terbuka, Dina menjilati dan mencium leherku, kemudian turun menjalar ke bawah, centi demi centi dadaku, hingga akhirnya menjilati dan menciumi putingku.
Putingku digigitnya, menimbulkan sensasi luarbiasa. Aku berusaha melepas baju yang dipakai Dina, hingga akhirnya kulempar entah kemana. Tinggallah Dina hanya menggunakan bra hitam seksi, sambil masih menjilati tiap centi dadaku. “Oooh.. Sil.. god.. mmh” aku meracau menikmati permainan lidahnya. Dina begitu buas menjilati dadaku yang ditumbuhi sedikit bulu.
Tanganku meraih pengait bra, dan terlepas. Kulepaskan dan kulempar lagi entah kemana. Kini dua daging kembar itu menyentuh perutku. Semakin Dina bergerak kebawah, terasa gumpalan daging itu memijat penisku dan semakin memberikan sensasi luar biasa. Tiba- tiba, Dina menghentikan kegiatannya, dan berdiri. “Tunggu, gue punya kejutan tambahan buat lo..”, sambil berjalan menuju telepon.
“Cin, ke ruangan ku sebentar,.. gantiin tugas mu sama Marini. Minta sama dia, Gue gak mau terima telepon, gue gak terima tamu hari ini sampe jam 5. Is that clear?” jawaban Cinthya di speaker phone mengakhiri permintaan Dina. Aku kaget setengah mati, dan buru-buru mengancingkan kemejaku dan berusaha merapikan celanaku. “Ri, nggak perlu deh lu rapiin,”, ujar Dina, seraya pintu dibuka oleh Cinthya.
Cinthya tersenyum ke arahku, sambil mengunci pintu dari dalam dan lalu menghampiri Dina yang masih berdiri dekat meja. Kekagetanku bertambah, ketika mereka berpelukan dan saling cium ala french kiss. Cinthya meremas payudara Dina, sambil berciuman. “Cin, mau kan nemenin aku muasin diriku bareng Ari?” tiba-tiba Dina berubah jadi romantis. Cinthya mengangguk tanda setuju dan tersenyum ke arahku.
Fantasiku jadi kenyataan, akhirnya aku dapat menikmati tubuh Cinthya. Mereka berdua menghampiriku. Dina kembali menciumku, bibir kami saling berpagut. Sementara Cinthya mengeluarkan batang penisku, yang kemudian dihisapnya. Woow sensasi luar biasa. Gantian kuhisap payudara Dina, dan dia pun melenguh. “Eughh.. hmm.. Ari.. ahh..”, ceracau Dina, sambil kuremas pantatnya.
Kusingkapkan roknya, dan ternyata Dina memakai pantyhose, stocking celana. G-String hitam membayang menambah gairah. Sementara Cinthya masih sibuk dengan penisku. Hisapan sangat enak, pertanda dia pun pengalaman. Sambil membuka satu-persatu pakaiannya, Cinthya menjilati zakarku, ujung penisku pun tak luput dibikin geli olehnya, hingga akhirnya tinggal g-stringnya yang masih menempel.
Aku akhirnya berbaring di sofa panjang, gantian Dina menjilat dan menghisap penisku, sementara vagina Cinthya berada di atas mukaku. Kujilati vagina yang sudah mulai becek dari sela g-string yang masih menempel. “Ahh, .. Ehm.. nikmath sekalihh.. uhh..”, lidahku menari di vagina Cinthya. Cinthya membungkuk hingga akhirnya kami membentuk posisi 69, bergabung dengan Dina yang tengah menghisap penisku.
Bergantian mereka menjilat dan menghisap penisku, dan kadang mereka saling menjilat lidah masing- masing, ataupun berciuman. “Slurp.. Slurp.. mmcup.. ahh.. slurp..”, bunyi hisapan bercampur air liur mereka yang membasahi penisku. “Aaach.. Arii.. ohchh.. aahh”, Cinthya berteriak, tanda orgasme. Mulutku pun belepotan oleh cairan vagina Cinthya. Cinthya beranjak dari mukaku dan duduk di sofa satunya lagi.
“Sekarang giliranmu Sil”, kataku mulai berani untuk mengimbangi permainannya. Rasa sungkan itu hilang seiring munculnya nafsu menggebu untuk turut menikmati vagina Dina. Dina berbaring di sofa panjang. Terlihat noda basah di sekitar pantyhose yang menutupi g- string dan vaginanya. Kujilati perlahan pantyhosenya, menambah lebarnya noda basah tersebut. Kuakui, akhirnya aku menyukai wanita dengan pantyhose terpasang seperti Dina.
Dina menggelinjang keenakan. Kugigit hingga sobek pantyhosenya, hingga membuat lubang dan dengan jelas menampakkan CD hitam seksinya. Kusingkapkan ke pinggir, hingga celah vagina Dina terlihat. Peduli amat aku harus ganti atau tidak pantyhosenya. Seribu pantyhose pun yang dia minta pasti kuganti.. mercy aja aku bisa beli apalagi yang begituan. Penetrasi lidahku semakin buas, membuat Dina mengerang kenikmatan, dan sesekali berteriak.
Kutahu pasti ruangan itu kedap suara, karena pintunya pun sangat tebal, duakali tebal pintu biasa kali. Sementara itu Cinthya yang masih kelelahan, memainkan vaginanya dengan jari, sambil menikmati permainanku dengan Dina. Erangan kuat Dina menandai dia telah mencapai puncaknya, semakin besar pula lah, noda basah di pantyhose sekitar vaginanya. “Ari.. aku puas banget, Ri sungguh..”, Dina memuji permainan lidahku. “Just wait ladies, you haven’t seen it all..”, kataku sambil melepaskan kemeja yang sudah terlepas kancingnya.
Kuturunkan juga celana lea permanent pressku dan cdnya. Perlahan ku hampiri Dina yang masih terbaring. Kuraih kaki indah yang masih terbungkus pantyhose hitam. Kujilati ujung kakinya, sambil sesekali kukgigit perlahan, menimbulkan rasa geli yang tak dapat ditahan Dina, hingga tubuh indah Dina bergerak ke kanan dan ke kiri. Kaki Dina menimbulkan bau harum khas yang menambah naiknya libidoku ke ubun-ubun.
Ku sususri betis hingga paha dengan lidahku, hingga akhirnya sampai pada vagina basahnya. Sekitar lima menit kujilati, lalu aku berdiri tegak. Bagai pedang terhunus, ku dekatkan penis tegak ini ke vagina Dina. Lewat lubang pantyhose yang kubuat dan celah g-string yang tersingkap, ku mainkan penisku, mengusap labia mayora Dina yang sudah becek. “Masukin.. Ri.. Ayoo.. Masukin sayang, aku udah nggak tahan.. jangan sikhsa akuhh Rii.. Ingat proposalmu sayang.. ohh..” dalam keadaan terangsangpun Dina masih bisa mengancam. “Siap ya sayang..,” dan perlahan centi-demi centi batang penisku amblas di vagina hangat dan sempit ini. Bless.. seluruh batangku dilahap vagina Dina.
Rasa hangat dan geli semakin terasa. Apalagi vagina Dina seperti memijat penisku. Perlahan kucabut dan kumasukkan kembali dengan tempo yang semakin cepat. Tangan Dina merangkul leherku. Gerakan pantatku maju mundur dengan irama yang makin cepat. “Oh.. Oh.. Oh.. Good.. ah.. aa.. aahh” kata-kata itu muncul seirama dengan keluar masuknya penisku di vagina Dina.
Smentara itu Cinthya yang sedari tadi memainkan vaginanya, menghampiri Dina. Bibir mereka saling berpagut, kemudian lidah Cinthya menjalar ke leher hingga payudara Dina. Dihisapnya puting Dina sambil sesekali digigitnya. “Damn it, You fish me ghhoodd.. occhh.. .Shit!” Dina kembali meracau. “I wanna cum.. I wanna cumm.. AAHH.. Shit.. You’re really good honey..”.
Tidak percuma aku merawat tubuhku di Gym hotel Mulia Senayan. In fact, aku juga punya langganan tetap penyaluran hasratku di sana. Seorang Instruktur aerobic cewek. Kucabut perlahan penisku dari vagina Dina. Aku menghampiri pantat Cinthya yang masih sibuk menjilat puting payudara Dina. Kuturunkan CD- nya, dan kulepas dari kakinya. Kuciumi sebentar, dan aromanya membuat libidoku semakin meledak.
Kugigit g-string warna krem tadi sambil kuarahkan penisku, mencari lubang anus Cinthya. Kubasahi penisku dengan ludahku sendiri. Cinthya tampak agak keberatan karena pantatnya bergerak-gerak terus kiri kanan. Namun sekali kesempatan kupegangi kuat-kuat pantanya. Kumasukkan perlahan. Cinthya menjerit. Pertama akupun merasa perih, namun lama-lama, seiring dengan banyaknya ludah kuoleskan di penis, semain licin pula jalan masuk.
Cinthya pun merasa keenakan, mendapat sensasi baru ini. “Ari.. Achh.. Nikmat sekali.. aduuhh.. Ari.. cepetin dong.. achh” racau Cinthya. “Yes, fish her in the ass baby!”, seru Dina sambil mengubah posisi dengan vagina menghadap muka Cinthya. Cinthya tidak melepaskan kesempatan untuk menjilat vagina Dina. Permainan tetap berjalan bertiga. Sesekali kutampar pantat Cinthya, membuat Cinthya melenguh kesakitan, namun suaranya menambah sensasi.
Geli di ujung penisku semakin kuat. Tak berapa lama ku cabut batang penisku. Cinthya membalik menghadap penisku sambil duduk di sofa. Begitu pula Dina. Kukocok cepat penisku, sementara mulut mereka telah siap menerima spermaku. “Give it to me darling.. yes.. shake it..! seru Dina menyemangati kocokanku. “Ayo Ri.. aku udah lama nggak minum sperma.. c’mon Ri”,
Cinthya pun turut menyemangati pula bersahut-sahutan dengan Dina. “I’m Cumming.. oh.. oh.. oh.. AARGHH..!”, teriakku, seiring dengan keluarnya sperma, menyemprot muka mereka berdua silih berganti. Cinthya dan Dina menjilati leleran spermaku di mukanya, sesekali mereka juga saling menjilat. Oooh, pengalaman pertama orgyku yang hebat. Aku terduduk lemas, mereka menghampiriku sambil kemudian menjilati batang penis yang masih penuh dengan sisa-sisa sperma.
Tentunya perbuatan mereka membuatku menggelinjang. “Ok, Ri, .. you’re the best fisher I’ve ever know.. and proposal lu juga gue terima”, kata Dina sambil duduk di samping kananku. Sementara Cinthya berada di samping kiriku. Kenikmatan ganda yang tiada duanya. “Ri, thank you very much”, ujar Cinthya sambil kemudian melumat bibirku.

Corner 'Cerita' Sex, Cerita Sex Indonesia, Cerita Seks Indonesia, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Cerita Sex Dewasa, Cerita Dewasa, Cerita Panas, Cerita Sex, Cerita Seks, Cerita 18+, Cerita ML, Hot Story, Sex Story, Corner 'Cerita' Sex.

Corner 'Cerita' Sex™ 2016

No comments:

Post a Comment